Review
Buku
“Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual”
karya Fazlur
Rahman
by : Nimas, 16 Maret 2015, pukul 13.16
Fazlur
Rahman merupakan bapak Neo Modernisme Islam, ia sendiri menyebut alirannya Neo
Modernisme yaitu gerakan pemikiran yang mencoa bersikap adil terhadap tradisi
dan kemajuan dengan mengambil setiap kebaikan yang meninggalkan kekurangannya.
Dalam bukunya Islam dan Modernitas
tentang Transformasi Intelektual, ia menjelaskan tentang kunci metodologi hermeneutik,
dimana ia mengambil pemikiran dari Italia yaitu Emillio Betti. Dalam pemikiran
Betti, pemahaman terhadap sebuah teks yang berasal dari masa lalu pada
hakikatnya merupakan usaha pemahaman dari penulis teks tersebut dan bukan hanya
bagaimana isi teks tersebut, kemudian Rahman mencoba melakukan pemahaman al-Qur’an
dengan merekonstruksi sejarah Al-Qur’an tersebut kepada situasi historis dimana
ayat-ayat itu diturunkan kepada Nabi dan direkonstruksikan dengan situasi
psikologis Nabi, setelah itu maka akan ditemukan inti ajara-ajaran al-Qur’an,
sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi sosial yang ada pada masyarakat
sekitar. Rahman berusaha menunjukkan bahwa kemodernan tidak untuk dihindari
tapi untuk dihadapi dengan mengakomodasinya dan menyelaraskannya terhadap
ajaran-ajaran al-Qur’an. Ia mencoba memadukan kehidupan materialisme dari kehidupan
modern dengan konservatisme dunia modern.
Usahanya
untuk mewujudkan pemikiran itu ialah lewat pendidikan dan politik, seperti
pernyataannya di bawah ini
“...
tetapi dalam situasi dimana massa rakyat adalah bodoh dan uta huruf dan
sekelompok relatif kecil elit berpindidikan modern menyatakan diri sebagai
bekerja keras atas nama rakyat demi kesejahteraan materiil mereka, kebeasan
politik seringkali dikeiri, baik di negeri-negeri yang bercorak ‘sosialis’
maupun ‘liberal’, karena penguasa dinegeri tersebut merasa bahwa permainan
politik hanya akan menghambat pembangunan ekonomi yang cepat, bahkan dalam
beberapa hal akan mengancam ‘keamanan negara’.”
Pernyataan
tersebut tercantum dalam bukunya Islam
dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual. Melalui beberapa karyanya,
ia mengkritik sistem politik dan sistem pendidikan yang berlaku di
negara-negara Islam, ia mengambil beberapa ajaran Barat kemudian ia selaraskan
dengan inti ajaran al-Qur’an, salah satunya ialah merubah sistem pendidikan di
fakultas Theologi (ushuluddin) yang pertamakalinya didirikan di lingkungan
Universitas Istambul oleh ataturk pada tahun 1924. Ia ingin menyelamatkan agama
dari kekolotan dan apologetika sehingga mampu memberikan makan kepada kehidupan
nasional dengan cara memberikan suatu orientasi moral yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar