Senin, 05 Oktober 2015

Gunung Prau
          Gunung prau memiliki ketinggian 2.565 mdpl, dapat di tempuh dengan lewat jalur pendakian sekitar 2-3 jam yang terletak di daerah dieng, waonosobo, jawa tengah. gunung ini tidak terlalu tinggi bila dibandingkan dengan gunung berapi yang lain, selain itu, gunung ini tidak berapi, hehehe...
dari puncak gunung ini, kita dapat melihat beberapa puncak gunung lain seperti gunung merapi, merbabu, sumbing, sindoro, slamet.
jalur pendakian yang terjal dan sangat berbedu (cuma pas musim panas sih) menjadikan cita rasa tersendiri ketika kita mendakinya. Banyak pula warung-warung di jalur pendakian bahkan ada toilet umumnya juga, meskipun gk nyampe puncak sih. enak toh.. :D
beberapa foto ketika mendaki di gunung prau lewat jalur patak benteng




Jumat, 22 Mei 2015

Karna D.I.A
Lihatlah luka ini..
Yang sakitnya abadi
Yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
Dahulu aku mempunyai seorang kekasih yang amat ku sayangi, aku merasa nyaman di dekatnya, bersikap apa adanya tanpa membuat rekayasa dan tanpa berpura-pura, meskipun kami selalu mengolok-ngolok satu sama lain tapi kami tau, dengan cara itu lah kami mengekspresikan rasa sayang kami, semua begitu indah.. hari-hari yang kami lalui bahkan terkadang di warnai dengan pertengkaran, tapi... semua itu datang secara tiba-tiba tanpa terduga dan begitu cepat, keadaan dimana aku tak bisa berbuat apa-apa dan ia yang mulai disibukkan dengan berbagai tuntutan hidup dan kuliahnya, awalnya semua seperti biasa tapi kemudian aku yang terlalu terbawa emosi hingga ingin berpisah dengannya dan ia menyutujuinya, entah apa yang aku pikirkan saat itu yang pasti aku benar-benar hancur bahkan hingga saat ini, hancur yang begitu hancur hingga dalam beberapa dekade lamanya. Tak ingin beraktifitas, tak bernafsu makan dan yang ku lakukan hanyalah berdiam diri dan meratapi nasib, terlalu klise memang. :D
Sulit menepis bayangnya dari benakku, aku sudah mencari berbagai aktifitas agar segala tentangnya yang ada dipikiran ini dapat teralih, bahkan hingga kekasih baru, tetapi lagi-lagi bayangannya datang, hingga kami harus berpisah karna ia tau bahwa aku masih merindukan orang lain. Hari ini aku bertemu dengannya kembali, orang yang tak bisa ku cintai ahkan setelah satu setengah tahun lamanya kami berpisah. Rasanya ada yang aneh terhadap tubuhku, aku merindukan genggaman tangan dan pelukannya tetapi aku tak berbuat apa-apa, bahkan ketika dia mencoba mengajakku berbicara aku malah langsung pergi. Situasi ini menjadi kikuk diantara kami, rasanya sesak disini.. karna aku begitu merindukannya.

Sampai saat ini, aku masih belum mengerti kenapa aku begitu meN.Y.A.Y.A.N.G.I.nya, yang aku tahu.. aku menyayanginya hanya karna itu D.I.A. tak ada yang lain

Senin, 06 April 2015

Gunung Merbabu

Bersama kalian, Jumat-Sabtu, 3-4 April 2015
Jalur Selo








Senin, 23 Maret 2015



karena ni'mat Tuhan begitu terasa jika dinikmati dari atas, andong, magelang 14 maret 2015







Review Presentasi tentang Fundamentalisme



by : Nimas, 23 Maret 2015, 22.35
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, fundamentalisme merupakan paham yang cenderung untuk memperjuangkan secara radikal (keras), menurut istilah fundamentalisme merupakan faham yang berusaha memperjuangkan hal-hal yang dasar. Aliran ini muncul bukan dari kalangan Islam tetapi dari Barat (Nasrani), ketika ingin mempertahankan keaslian (orisinil) ajaran-ajaran agamanya. Aliran ini lahir sebagai reaksi dari modernitas, mereka menganggap bahwa modernitas hanya akan merusak ajaran-ajaran agama. Dalam Islam ajaran ini muncul setelah Nabi Muhammad wafat dan kepemimpinan dalam masa peralihan antara Usman dengan Ali yang menimbulkan kericuhan, kemudian muncul Khawarij yang merupakan gerakan pertama fundamentalisme Islam yang akhirnya menjadi wahabi. fundamentalisme mengklaim bahwa dirinya paling benar (kebenaran tunggal) dan menolak tradisi, menolak plural dan menolak toleransi dan sebagainya, karena menurut mereka semakin orang berfikir kemodernan maka nilai-nilai agama semakin berkurang. Mereka khawatir jika kemodernan ini terus berkembang maka akan merusak nilai-nilai agama itu sendiri, karena hal-hal kemodernan menuntut seseorang untuk merasionalkan segala hal serta kebenaran itu hanya milik rasio. Sesuatu dikatakan benar jika dapat diukur, universal, dapat dibuktikan dan rasinonalitas, hal tersebut merupakan hal-hal yang bersifat keduniaan sebagai akibat kemodernan menurut mereka yang menganut aliran fundamentalisme. Selain itu agama dijadikan sesuatu yang sakral yang tidak bisa di campur tangankan oleh manusia dan kemodernan menunjukkan segi material (duniawi).
Aliran fundamentalis ini memandang masyarakat hitam putih, berbeda dengan Fazlur Rahman yang merupakan bapak neomodernis Islam, dalam bukunya Islam dan Modernitas: tentang Transformasi Intelektual, ia mengemukakan bahwa kemodernan  adalah suatu hal yang tidak harus dihindari tetapi harus dihadapi, karena kemodernan justru menjadi peluang bagi Islam agar lebih maju dan dapat menjawab tantangan zaman.
Modernitas menurut fundamentalis merupakan suatu program yang  ertolak belakang dengan al-Qur’an dan sunnah, modernitas dianggap melenceng dari ajaran Islam karena menganggap semua agama itu benar, menurut fundamentalis pendapat itu salah karena agama yang paling benar adalah agama Islam, sebagaimana ajaran yang berkembang pada masyarakat muslim sampai saat ini. Fundamnetalis merupakan cara berfikir yang bersifat Ilahiyah.
Di Indonesia kelompok-kelompok yang menganut aliran fundamentalis, salah satu diantaranya yaitu: Hiztbut Tahrir Indonesia (HTI), dimana kelompok ini berusaha memperjuangkan  Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim agar sistem pemerintahannya yang tadinya demokrasi menjadi sistem khilafah, sistem khilafah ini merupakan sistem pemerintahan yang didalamnnya termuat ajaran-ajaran Islam, baik dari hukum maupun segala nilai moral yang mengatur kehidupan sehari-hari.

Senin, 16 Maret 2015

Review Buku 
“Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual” 
karya Fazlur Rahman
by : Nimas, 16 Maret 2015, pukul 13.16
Fazlur Rahman merupakan bapak Neo Modernisme Islam, ia sendiri menyebut alirannya Neo Modernisme yaitu gerakan pemikiran yang mencoa bersikap adil terhadap tradisi dan kemajuan dengan mengambil setiap kebaikan yang meninggalkan kekurangannya. Dalam bukunya Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual, ia menjelaskan tentang kunci metodologi hermeneutik, dimana ia mengambil pemikiran dari Italia yaitu Emillio Betti. Dalam pemikiran Betti, pemahaman terhadap sebuah teks yang berasal dari masa lalu pada hakikatnya merupakan usaha pemahaman dari penulis teks tersebut dan bukan hanya bagaimana isi teks tersebut, kemudian Rahman mencoba melakukan pemahaman al-Qur’an dengan merekonstruksi sejarah Al-Qur’an tersebut kepada situasi historis dimana ayat-ayat itu diturunkan kepada Nabi dan direkonstruksikan dengan situasi psikologis Nabi, setelah itu maka akan ditemukan inti ajara-ajaran al-Qur’an, sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi sosial yang ada pada masyarakat sekitar. Rahman berusaha menunjukkan bahwa kemodernan tidak untuk dihindari tapi untuk dihadapi dengan mengakomodasinya dan menyelaraskannya terhadap ajaran-ajaran al-Qur’an. Ia mencoba memadukan kehidupan materialisme dari kehidupan modern dengan konservatisme dunia modern.
Usahanya untuk mewujudkan pemikiran itu ialah lewat pendidikan dan politik, seperti pernyataannya di bawah ini
“... tetapi dalam situasi dimana massa rakyat adalah bodoh dan uta huruf dan sekelompok relatif kecil elit berpindidikan modern menyatakan diri sebagai bekerja keras atas nama rakyat demi kesejahteraan materiil mereka, kebeasan politik seringkali dikeiri, baik di negeri-negeri yang bercorak ‘sosialis’ maupun ‘liberal’, karena penguasa dinegeri tersebut merasa bahwa permainan politik hanya akan menghambat pembangunan ekonomi yang cepat, bahkan dalam beberapa hal akan mengancam ‘keamanan negara’.”

Pernyataan tersebut tercantum dalam bukunya Islam dan Modernitas tentang Transformasi Intelektual. Melalui beberapa karyanya, ia mengkritik sistem politik dan sistem pendidikan yang berlaku di negara-negara Islam, ia mengambil beberapa ajaran Barat kemudian ia selaraskan dengan inti ajaran al-Qur’an, salah satunya ialah merubah sistem pendidikan di fakultas Theologi (ushuluddin) yang pertamakalinya didirikan di lingkungan Universitas Istambul oleh ataturk pada tahun 1924. Ia ingin menyelamatkan agama dari kekolotan dan apologetika sehingga mampu memberikan makan kepada kehidupan nasional dengan cara memberikan suatu orientasi moral yang baru.

Rabu, 11 Februari 2015

Sejarah Berdirinya NU: Kembali ke Khittah
by Nimas & Ufiya Ajdar
Nahdatul Ulama atau biasa di singkat NU mempunyai arti kata kebangkitan para ulama. Organisasi ini didirikan oleh KH Hasyim Asy’hari pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926), beliau sekaligus juga sebagai Rois Aam pertama PBNU. KH Hasyim Asy’hari merumuskan kitab yang menegaskan prinsip dasar Nahdatul Ulama yaitu Qanun Asasi dan I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai  dasar dan rujukan untuk berpikir dan bertindak dalam berbagai bidang kehidupan.
Berdirinya NU karena menaungi umat islam yang berlandaskan Ahlusunnah wal Jama’ah sesuai ajaran Rasulullah, semakin banyaknya pengikut menyebabkan para kaum kapitalis menggunakan kesempatan demi mendapatkan keuntungan bagi dirinya. Salah satunya dengan mendirikan partai politik mengatasnamakan NU dengan tujuan mendapatkan massa yang banyak. Oleh karena itu NU harus kembali ke Khittah agar tidak semakin runyam dalam mengikuti perkembangan zaman.
Khittah NU adalah landasan berfikir, bersikap, bertindak warga NU yg harus di cerminkan dalam tingkah-laku perseorangan maupun organisasi serta dalam setiap proses pengambilan keputusan.[1]
Latar belakang lahirnya keputusan kembali ke khittah adalah kelelahan politik yang dialami warga nahdliyyin, sejak NU menjadi partai politik.[2] Bahkan entitatas NU sebagai partai harus terlebur dalam PPP, suatu partai yang menggabungkan bermacam-macam partai Islam, kemudian pemerintah orde baru mulai memaksakan pendapatnya terhadap berbagai persoalan, yang tidak mudah untuk diakomodasi oleh NU. Sedangkan PPP juga didera tekanan politik yang bertubi-tubi, tidak hanya itu, faksionalisme di dalam PPP berujung termarginalisasikannya posisi NU, padahal para kiai NU lah yang berada di ujung depan dalam setiap pemilu. Tekanan-tekanan itu mendorong NU bersikap radikal dalam berbagai persoalan, kemudian dimanakah letak radikal NU pada dekade 1970-an? Kita tahu bahwa kiai Bisri Syamsuri adalah ulama fiqh dan mempunyai posisi yang otoritatif, serta salah satu founding fathers NU, terlebih beliau sangat aktif di NU sejak berdirinya, sehingga kontribusi dan peranannya tidak mungkin di abaikan. Beliau menjadi Rais Aam NU sejak tahun 1971, menggantikan kiai Wahab Hasbullah yang meninggal pada tahun itu. Karena beliau adalah ulama ahli fiqh yang sangat konsisten dan disiplin, maka respon dia terhadap persoalan politik dan sosial, sangat kental dengan nuansa fiqh, adapun beberapa kebijakan yang didemonstrasikan ketika menjabat Rais Aam yaitu:
  1. Sikap keras NU dalam menolak perkawinan
  2. Menolak aliran kepercayaan
  3. Menolak P4
  4. Walk-out dalam sidang MPR tahun 1978 dsb.
Kemudian setelah kiai Bisri Sansuri meninggal, di gantikan oleh K.H Ali Maksum yang merupakan Rais Aam pertama yang bukan berasal dari founding fathers. Ia tidak memiliki pengalaman politik dan bukan sosok figur nasional sebagaimana pendahulunya, tetapi secara perlahan ia mampu mengemudikan NU menjauh dari dunia politik. Itu ditandai dengan sikapnya yang tidak mau duduk dalam majlis syuro PPP-posisi yang dulu di duduki kiai Bisri. Tetapi cerita mundurnya NU dari gelanggang politik tidak secara langsung, prosesnya lebih moderat, yang baru diputuskan pada Muktamar 1984 di Situbondo. Muktamar menyetujui kembali ke khittah dan menegaskan secara “resmi” NU adalah jam’iyyah Diniyyah Islamiyah dan sudah tidak berpolitik sejak 1973 karena sudah diserahkan kepada PPP. 
Berdasarkan dari khittah 1926, kemudian NU merumuskan sikap kemasyarakatan yang dihayati dan dikembangkan sesuai dengan situasi yang baru kini dihadapi, yaitu:
·         Sikap tasawuth dan i’tidal (sikap tengah dan lurus)
·        Sikap tasamuh (toleran)
·         Sikap tawazun (seimbang)
·         Amar ma’ruf nahi munkar.[3]

Selain itu, pada muktamar 1985 NU menyusun program yang dipusatkan pada upaya untuk memacu perkembangan masyarakat yang meliputi bidang-bidang:
  1. Syuriah
  2. Pendidikan (Ma’arif)
  3.  Da’wah dan penerbitan
  4. Sosial (Mobarat)
  5.  Perekonomian
  6. Pertanian dan Nelayan
  7. Tenaga Kerja
  8. Kebudayaan
  9. Kewanitaan
  10. Kepemudaan
  11. Kaderisasi
  12. Organisasi
  13. Pembentukan Kepribadian.
Dengan kembali menjadi organisasi keagaman, NU memasuki babak baru. Aspirasi Islam tidak lagi di perjuangkan melalui wadah politik formal tetapi melalui proses transformasi kultural yang inheren dari bangsa indonesia secara keseluruhan.[4] Mengutip kalimat Abdurrahman Wahid, yang menjelaskan bahwa “Tujuan NU adalah transformasi sosial secara lebih paripurna dan lebih mendasar..”[5], sehingga memperjuangkan aspirasi Islam secara kultural merupakan upaya kembali pada ciri-ciri khas NU.
                         




[1] Sitompul, M.E. Nahdlatul Ulama dan Pancasila. Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1989, hlm. 214.
[2] A.hmad Said As’ad, Pergolakan Dijantung Tradisi: NU yang Saya Amati, LP3ES, Jakarta, 2008, hlm. 56.
[3] Einar Martahan Sitompul, NU & Pancasila, LKIS, Yogyakarta, 2010, hlm. 201-205.
[4] Wahid, “NU dan Politik”, dalam kompas, 24 Juni 1987.
[5] Supra, hlm. 8; Bandingkan, hlm. 73-74.